
Hati-Hati! Memeras Lemon ke Makanan Panas Bisa Berisiko
Monika Pandey – Makanan panas sering diberi perasan lemon untuk menambah rasa segar, misalnya pada soto, kaldu, atau minuman hangat. Lemon sendiri dikenal sebagai buah yang kaya vitamin C dan memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Selain meningkatkan cita rasa, lemon juga dipercaya mendukung daya tahan tubuh serta kesehatan kulit. Namun, menurut para ahli, cara dan waktu menambahkan lemon sangat menentukan jumlah vitamin C yang bisa benar-benar Anda dapatkan.
Vitamin C (asam askorbat) termasuk nutrisi larut air yang sangat rentan rusak jika terkena suhu tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa vitamin C mulai terdegradasi sejak suhu sekitar 30°C, dan semakin cepat berkurang pada suhu 85-95°C. Artinya, jika Anda langsung memeras lemon ke makanan panas yang masih mendidih atau mengepul uap, kandungan vitamin C bisa berkurang drastis.
“Baca Juga: Beras Warna dari Yogyakarta, Solusi Sehat untuk Penderita Diabetes”
Tenang, tidak sepenuhnya hilang. Menurut Food NDTV, meski vitamin C cepat rusak oleh panas, tetap ada sebagian kandungan yang tersisa. Jika perasan lemon ditambahkan setelah makanan matang dan siap disajikan, tubuh masih bisa menyerap sebagian besar vitamin C. Jadi, trik utamanya adalah menunggu hingga makanan tidak terlalu panas sebelum memeras lemon.
Selain panas, ada beberapa faktor lain yang dapat mempercepat hilangnya vitamin C, yaitu:
Seperti dikutip dari Chowhound, jus lemon yang disimpan terlalu lama akan kehilangan kandungan vitamin C lebih cepat dibandingkan jus yang langsung diminum setelah diperas. Oleh karena itu, sebaiknya gunakan lemon segar agar manfaatnya lebih maksimal.
Cara paling tepat untuk menjaga manfaat vitamin C adalah memeras lemon setelah makanan selesai dimasak atau ketika makanan sudah agak hangat. Dengan begitu, kandungan vitamin C lebih terjaga sekaligus menambah aroma segar yang menggugah selera.
Agar manfaat lemon lebih optimal, perhatikan tips sederhana berikut:
“Simak Juga: Di Tengah Panggilan KPK, Rektor USU Masih Pimpin Upacara 17 Agustus”
Monika Pandey - Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan telemedicine di Indonesia telah melonjak lebih dari…
Monika Pandey - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi obat jangka panjang…
Monika Pandey, Jakarta - Fakta mengejutkan menunjukkan bahwa 50 persen kegagalan terapi obat bukan disebabkan oleh kualitas obat itu sendiri,…
Monika Pandey - Data terbaru Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mengungkap fakta mengejutkan bahwa sekitar 76% masyarakat Indonesia masih mengonsumsi…
Monika Pandey - Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menunjukkan setengah dari seluruh pasien global gagal mengonsumsi…
Monika Pandey - Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2023 menyebutkan tingkat kepatuhan pengobatan kronis di negara berkembang hanya berkisar 50%.…
This website uses cookies.